A Letter
“IT’S PARADISE and IT’S WAR ZONE”
Arkjun Yudistira Pratama
London, England 09th April 2018
Hujan deras yang turun membangunkan seorang wanita
berambut hitam dari tidurnya. Dengan sigap, ia beranjak dari kamarnya dan mulai
merapikan diri. Ruangannya yang terlihat bagaikan sebuah istana membuatnya
kelelahan membersihkan ruangannya sendiri. Dia tampaknya tinggal sendirian. Setelah
semua yang bisa dilihat matanya tampak bersih, dia mulai turun dan menyiapkan
sarapan.
Jam telah menunjukkan pukul 07.32, semuanya terlihat
baik. Sarapan telah dihabiskannya, lalu ia dengan segelas teh panas yang
digenggamnya berjalan menuju jendela, dilihatnya seorang tukang pos sedang
menaruh sebuah surat kedalam kotak surat miliknya. Dia menatap tukang pos itu
dan mulai bertanya-tanya dalam hatinya, siapa yang mengirimkannya surat? Dia
dan rasa penasarannya mulai membuka pintu dan menghampiri kotak surat. Si tukang
pos kemudian pergi, dia memanggil si tukang pos, tetapi tak ada respon. Si
tukang pos berlalu begitu saja.
Ia membuka kotak suratnya, diambilnya surat tadi.
Surat polos tanpa ada satupun kata yang tertancap di amplobnya. Dia membawa
surat itu masuk. Dia masuk kedalam ruangannya dan menutup pintu, dibukanya
surat tersebut. Sebuah surat dan sebuah gambar dengan dua remaja yang berpose
manis. Seorang gadis dan anak laki-laki, gadis tersebut terlihat mirip
dengannya, dan anak laki-laki itu? Dia menatap gambar itu cukup lama, dan
akhirnya air matanya jatuh saat melihat gambar itu. Dibelakang foto tersebut
tertulis “Hay, you remember this picture?
I know you miss me.”
Dia menangis, digenggamnya gambar itu dengan erat. Dia
kemudian melihat surat yang terbawa bersama gambar itu dan membuka lipatan
surat itu. Dia meraba surat tersebut dan menatap gaya tulisannya. Matanya masih
dipenuhi air mata dan sebuah senyuman kecil terpampang dari bibirnya.
Dear
Zia
Ini
sudah beberapa tahun setelah kepergianku. Ini mungkin surat pertama yang datang
dariku setelah sekian lama, setelah pertemuan kita yang terakhir kalinya. Kau masih
menyimpan buku biru itu? Jangan khawatir, kupastikan padamu, aku akan berada
dirumahmu kelak, hanya tunggu aku. Buku itu akan menemanimu sampai aku datang.
Kau tahu, aku selalu merindukan masa itu. Masa dimana kita masih bisa saling
menatap dan menyapa, masa dimana aku masih bisa mengagumimu lewat sebuah
senyuman. Kau mungkin sudah mencapai semua keinginan masa kecilmu. Aku masih
sangat ingat dengan semua mimpi yang pernah kau impikan, semua terlihat begitu
nyata bagimu. Ya, dan aku hanya bisa mendoakanmu yang terbaik.
Kau
tahu bahwa aku dahulu tidak punya mimpi, semua terlihat buram untuk kutatap.
Bahkan cahaya matahari tak cukup kuat untuk membuatku bangun dari sebuah
kegagalan. Aku terus bersembunyi dari kenyataan, aku tak mampu keluar dari
keterpurukanku. Namun semua berubah ketika aku mulai mengenalmu.
Dalam
surat ini aku hanya ingin menceritakanmu bagaimana aku terjatuh begitu dalam
dihatimu. Mari kita mulai saat umurku 14 tahun, saat aku melihatmu bernyanyi
diruangan itu. Menyanyikan sebuah lagu yang tidak pernah kudengar sebelumnya,
kau dengan sebuah senyuman kecil yang kutatap membuatku memikirkanmu sepanjang
hari. Kau selalu terbayang dalam mataku, aku ingin kau keluar dari pikiranku
dan datang kedalam hidupku..
Bebarapa
bulan berlalu, kita mulai akrab. Kau yang sering menyediri dengan buku diarymu
mulai kudekati. Semakin lama, perasaan ini semakin besar padamu, hanya saja aku
tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Sampai akhirnya, aku menyatakan
perasaanku padamu dibelakang ruangan itu. Aku sangat ingat bagaimana aku
bertingkah bodoh didepanmu. Aku sering tertawa sendiri saat mengingat hal itu,
aku bahkan malu pada diriku sendiri. Kita akhirnya memulai sebuah hubungan, sebuah
hubungan spesial bagi dua remaja yang sedang dimabuk asmara. Dunia bergerak
lambat rasanya saat kau dan aku mulai bersama. Kita melakukan banyak hal,
bahkan terkadang berlebihan. Hingga pada suatu waktu, kita berakhir karena kau
menuduhku berhubungan dengan orang lain. Entah siapa dia, dia mengirimiku
banyak pesan dan merendahkan dirimu. Aku sangat marah saat itu. Kau seolah
berubah saat itu, tatapanmu menjadi dingin padaku, kita mulai jarang bicara.
Hari
berlalu dengan cepat, tak kusadari, kau mulai sering tersenyum lagi padaku, dan
aku merasa ini adalah sebuah pertanda baik, karena jujur saat itu aku belum
bisa melupakanmu. Suatu hari, kau mengirimiku sebuah surat panjang yang
membuatku merasa dipermainkan. Kau mengakuinya, ternyata wanita itu adalah
dirimu sendiri. Wanita yang mengirimiku banyak pesan itu adalah dirimu sendiri.
Aku hanya menangis, kau dengan mudahnya membuatku menjadi seperti itu.
Namun,
tak apa. Bagiku itu adalah masa lalu, dan itu membuktikan padaku bahwa aku
masih sangat mencintaimu. Kau ingat, bagaimana kita kembali bersama setelah
cobaan pertama ini diberikan Tuhan? Ajaib rasanya, cobaan pertama ini memang
cukup sulit untuk dilalui. Tapi kau pasti mengingat bagaimana cobaan kedua
diberikan kepada kita. Cobaan yang hampir membuat kita berpisah. Hari itu
tanggal 05 Desember, aku berkunjung kerumahmu untuk memastikan kau baik saja.
Kita berbincang untuk beberapa saat, kita memulai perbincangan dengan baik.
Namun semakin lama, perbincangan kita semakin memanas. Kau mengembalikan cincin
yang pernah kuberikan padamu. Kau kembali memberiku tatapan yang menyakitkan
itu. Kau tahu, itu sakit, kau seperti mengusirku. Tak ada yang lebih
menyakitkan bagiku selain itu.
Aku
berjalan keluar dari rumahmu seperti seolah pecundang, kau melukai ku,
sangat-sangat melukai ku. Sejak itu, aku mulai tidak bicara denganmu, aku mulai
medekati gadis lain hanya untuk membuatmu merasa cemburu. Akan tetapi, kau
bahkan terlihat tidak perduli. Ini membuatku semakin frustasi, bahkan kau mulai
dekat orang lain. Hanya buku biru itu yang tahu bagaimana aku mencintaimu,
semua kutulis dalam buku itu. Tawa, tangis, susah, senang, keras dan lembutnya
aku mencintaimu.
Buku
itu adalah aku. Semua perasaanku kutumpahkan dalam buku itu dan kau akhirnya
membacanya. Kau akhirnya tahu bahwa aku masih mencintaimu. Dan ujian kedua yang
diberikan Tuhan telah berakhir.
Kini,
tunggu aku, semua yang kita impikan dahulu akan segera terwujud. Ini adalah
surga dan ini adalah medan perang. Apapun bisa terjadi, kau harus bersabar, kau
mengerti? Akan ada masa dimana kita akan memiliki rumah kita sendiri, tinggal
di lingkungan yang kau sukai, membuat kesal para tetangga, memiliki tempat
dimana kita merasakan kesedihan, tempat untuk melenyapkan ketakutanmu, aku ingin
mendekapmu, malam nanti, dan selamanya. Aku ingin terbangun disisimu.
Aku
mencintaimu, kau tahu itu.
Lots
of Love
Apple
Setelah
membaca surat itu, dia menangis dengan keras. Gambar itu tetap digenggamnya,
surat yang dibacanya tadi dipeluk dengan erat. Seolah surat itu adalah sebuah
surat dari seseorang yang berharga baginya
Beberapa
hari berlalu, dia melakukan aktivitas seperti biasa, namun hari ini terlihat
berbeda. setelah menghabiskan sarapannya, dia dikagetkan dengan suara bel yang
berbunyi. Dia menghampiri pintu dan membukanya, tampak seorang laki-laki
berperawakan tinggi dan putih yang sepertinya menekan bel rumahnya.
“Excuse
me, who are you?” tanya wanita itu
“Aku Berlin, adik Apple. Kau tidak ingat aku kak?”
Cetus si pria itu.
“Berlin? Itu kamu? Ayo masuk.”
Laki-laki itu masuk kedalam rumah dan duduk.
“Kau sudah menerima suratnya?” tanya pria tersebut.
“Surat? Oh, iya. Aku sudah menerimanya beberapa hari
yang lalu.”
“Maaf aku baru bisa mengirimnya beberapa waktu yang
lalu.”
“Maksudmu?”
“Ya, surat itu sebenarnya surat yang cukup lama.
Sudah setahun yang lalu.”
“Maksudmu? Lalu kenapa surat itu baru sampai
kemarin?”
“Aku menyembunyikannya.”
“Kenapa? Aku tidak mengerti ada apa ini. Sebenarnya
ada apa?”
“Kau harus bersabar mendengar ini, sebenarnya...
Apple telah wafat setahun yang lalu, surat itu dia tuliskan untukmu saat dia
berada dirumah sakit. Walau kondisinya saat itu sedang sekarat, dia masih
memaksakan diri untuk menulis surat itu sendiri.”
“Apa yang kau katakan Lin? Jangan bercanda, Apple tidak
mungkin! Dia tidak pernah terlihat sakit, biasanya dia hanya sakit demam.
Jangan buat aku semakin khawatir Lin.”
“Maafkan aku kak, inilah kenyataannya. Apple
menyembunyikan semuanya darimu agar kau tak perlu mengkhawatirkannya.
Penyakitnya itu telah menjangkitinya saat dia masih remaja, lebih tepatnya saat
kalian saling mengenal.”
Air mata mulai tumpah dari perempuan itu, dia dengan
bibirnya yang bergetar terus berkata “All Iz Well, tidak mungkin, tidak
mungkin..” dia menatap laki-laki itu dan
memegang tangannya.
“Berlin, kumohon jangan bohongi aku, jangan
bercanda. Apple tidak mungkin mati. Apple tidak mungkin mati...” semakin lama
suaranya semakin keras, “Apple tidak mungkin mati, dia tidak mungkin
meninggalkanku, dia sudah berjanji padaku. Berlin... jawab aku, kau bercanda
kan? Berlin jawab aku, Apple tidak mungkin mati, dia tidak mungkin
meninggalkanku. Apple? Dimana kau? Jangan ingkari janjimu. Jangan tinggalkan
aku, kumohon...”
Tangisan memenuhi wajah wanita itu, laki-laki itu
hanya terlihat merunduk dan terdiam. Hanya tangisan wanita itu yang memenuhi
suara ruangan. Dia mengingat dengan jelas bagaimana pria yang dicintainya itu
memberikan sebuah buku biru saat kelulusan mereka dan berjanji akan mendatangi
rumah wanita tersebut. Janji yang mereka buat untuk saling memiliki dan
menjaga. Mungkin inilah maksud dari surat tersebut. Ini adalah surga dan ini
adalah medan perang. Semua bisa terjadi.
\
The End











