A Letter

by 05.52.00 0 komentar

A Letter
“ITS PARADISE and ITS WAR ZONE”
Arkjun Yudistira Pratama
 
London, England 09th April 2018
Hujan deras yang turun membangunkan seorang wanita berambut hitam dari tidurnya. Dengan sigap, ia beranjak dari kamarnya dan mulai merapikan diri. Ruangannya yang terlihat bagaikan sebuah istana membuatnya kelelahan membersihkan ruangannya sendiri. Dia tampaknya tinggal sendirian. Setelah semua yang bisa dilihat matanya tampak bersih, dia mulai turun dan menyiapkan sarapan.
Jam telah menunjukkan pukul 07.32, semuanya terlihat baik. Sarapan telah dihabiskannya, lalu ia dengan segelas teh panas yang digenggamnya berjalan menuju jendela, dilihatnya seorang tukang pos sedang menaruh sebuah surat kedalam kotak surat miliknya. Dia menatap tukang pos itu dan mulai bertanya-tanya dalam hatinya, siapa yang mengirimkannya surat? Dia dan rasa penasarannya mulai membuka pintu dan menghampiri kotak surat. Si tukang pos kemudian pergi, dia memanggil si tukang pos, tetapi tak ada respon. Si tukang pos berlalu begitu saja.
Ia membuka kotak suratnya, diambilnya surat tadi. Surat polos tanpa ada satupun kata yang tertancap di amplobnya. Dia membawa surat itu masuk. Dia masuk kedalam ruangannya dan menutup pintu, dibukanya surat tersebut. Sebuah surat dan sebuah gambar dengan dua remaja yang berpose manis. Seorang gadis dan anak laki-laki, gadis tersebut terlihat mirip dengannya, dan anak laki-laki itu? Dia menatap gambar itu cukup lama, dan akhirnya air matanya jatuh saat melihat gambar itu. Dibelakang foto tersebut tertulis “Hay, you remember this picture? I know you miss me.
Dia menangis, digenggamnya gambar itu dengan erat. Dia kemudian melihat surat yang terbawa bersama gambar itu dan membuka lipatan surat itu. Dia meraba surat tersebut dan menatap gaya tulisannya. Matanya masih dipenuhi air mata dan sebuah senyuman kecil terpampang dari bibirnya.
Dear Zia
Ini sudah beberapa tahun setelah kepergianku. Ini mungkin surat pertama yang datang dariku setelah sekian lama, setelah pertemuan kita yang terakhir kalinya. Kau masih menyimpan buku biru itu? Jangan khawatir, kupastikan padamu, aku akan berada dirumahmu kelak, hanya tunggu aku. Buku itu akan menemanimu sampai aku datang. Kau tahu, aku selalu merindukan masa itu. Masa dimana kita masih bisa saling menatap dan menyapa, masa dimana aku masih bisa mengagumimu lewat sebuah senyuman. Kau mungkin sudah mencapai semua keinginan masa kecilmu. Aku masih sangat ingat dengan semua mimpi yang pernah kau impikan, semua terlihat begitu nyata bagimu. Ya, dan aku hanya bisa mendoakanmu yang terbaik.
Kau tahu bahwa aku dahulu tidak punya mimpi, semua terlihat buram untuk kutatap. Bahkan cahaya matahari tak cukup kuat untuk membuatku bangun dari sebuah kegagalan. Aku terus bersembunyi dari kenyataan, aku tak mampu keluar dari keterpurukanku. Namun semua berubah ketika aku mulai mengenalmu.
Dalam surat ini aku hanya ingin menceritakanmu bagaimana aku terjatuh begitu dalam dihatimu. Mari kita mulai saat umurku 14 tahun, saat aku melihatmu bernyanyi diruangan itu. Menyanyikan sebuah lagu yang tidak pernah kudengar sebelumnya, kau dengan sebuah senyuman kecil yang kutatap membuatku memikirkanmu sepanjang hari. Kau selalu terbayang dalam mataku, aku ingin kau keluar dari pikiranku dan datang kedalam hidupku..
Bebarapa bulan berlalu, kita mulai akrab. Kau yang sering menyediri dengan buku diarymu mulai kudekati. Semakin lama, perasaan ini semakin besar padamu, hanya saja aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkannya. Sampai akhirnya, aku menyatakan perasaanku padamu dibelakang ruangan itu. Aku sangat ingat bagaimana aku bertingkah bodoh didepanmu. Aku sering tertawa sendiri saat mengingat hal itu, aku bahkan malu pada diriku sendiri. Kita akhirnya memulai sebuah hubungan, sebuah hubungan spesial bagi dua remaja yang sedang dimabuk asmara. Dunia bergerak lambat rasanya saat kau dan aku mulai bersama. Kita melakukan banyak hal, bahkan terkadang berlebihan. Hingga pada suatu waktu, kita berakhir karena kau menuduhku berhubungan dengan orang lain. Entah siapa dia, dia mengirimiku banyak pesan dan merendahkan dirimu. Aku sangat marah saat itu. Kau seolah berubah saat itu, tatapanmu menjadi dingin padaku, kita mulai jarang bicara.
Hari berlalu dengan cepat, tak kusadari, kau mulai sering tersenyum lagi padaku, dan aku merasa ini adalah sebuah pertanda baik, karena jujur saat itu aku belum bisa melupakanmu. Suatu hari, kau mengirimiku sebuah surat panjang yang membuatku merasa dipermainkan. Kau mengakuinya, ternyata wanita itu adalah dirimu sendiri. Wanita yang mengirimiku banyak pesan itu adalah dirimu sendiri. Aku hanya menangis, kau dengan mudahnya membuatku menjadi seperti itu.
Namun, tak apa. Bagiku itu adalah masa lalu, dan itu membuktikan padaku bahwa aku masih sangat mencintaimu. Kau ingat, bagaimana kita kembali bersama setelah cobaan pertama ini diberikan Tuhan? Ajaib rasanya, cobaan pertama ini memang cukup sulit untuk dilalui. Tapi kau pasti mengingat bagaimana cobaan kedua diberikan kepada kita. Cobaan yang hampir membuat kita berpisah. Hari itu tanggal 05 Desember, aku berkunjung kerumahmu untuk memastikan kau baik saja. Kita berbincang untuk beberapa saat, kita memulai perbincangan dengan baik. Namun semakin lama, perbincangan kita semakin memanas. Kau mengembalikan cincin yang pernah kuberikan padamu. Kau kembali memberiku tatapan yang menyakitkan itu. Kau tahu, itu sakit, kau seperti mengusirku. Tak ada yang lebih menyakitkan bagiku selain itu.
Aku berjalan keluar dari rumahmu seperti seolah pecundang, kau melukai ku, sangat-sangat melukai ku. Sejak itu, aku mulai tidak bicara denganmu, aku mulai medekati gadis lain hanya untuk membuatmu merasa cemburu. Akan tetapi, kau bahkan terlihat tidak perduli. Ini membuatku semakin frustasi, bahkan kau mulai dekat orang lain. Hanya buku biru itu yang tahu bagaimana aku mencintaimu, semua kutulis dalam buku itu. Tawa, tangis, susah, senang, keras dan lembutnya aku mencintaimu.
Buku itu adalah aku. Semua perasaanku kutumpahkan dalam buku itu dan kau akhirnya membacanya. Kau akhirnya tahu bahwa aku masih mencintaimu. Dan ujian kedua yang diberikan Tuhan telah berakhir.
Kini, tunggu aku, semua yang kita impikan dahulu akan segera terwujud. Ini adalah surga dan ini adalah medan perang. Apapun bisa terjadi, kau harus bersabar, kau mengerti? Akan ada masa dimana kita akan memiliki rumah kita sendiri, tinggal di lingkungan yang kau sukai, membuat kesal para tetangga, memiliki tempat dimana kita merasakan kesedihan, tempat untuk melenyapkan ketakutanmu, aku ingin mendekapmu, malam nanti, dan selamanya. Aku ingin terbangun disisimu.
Aku mencintaimu, kau tahu itu.

Lots of Love
Apple



Setelah membaca surat itu, dia menangis dengan keras. Gambar itu tetap digenggamnya, surat yang dibacanya tadi dipeluk dengan erat. Seolah surat itu adalah sebuah surat dari seseorang yang berharga baginya
Beberapa hari berlalu, dia melakukan aktivitas seperti biasa, namun hari ini terlihat berbeda. setelah menghabiskan sarapannya, dia dikagetkan dengan suara bel yang berbunyi. Dia menghampiri pintu dan membukanya, tampak seorang laki-laki berperawakan tinggi dan putih yang sepertinya menekan bel rumahnya.
“Excuse me, who are you?” tanya wanita itu
“Aku Berlin, adik Apple. Kau tidak ingat aku kak?” Cetus si pria itu.
“Berlin? Itu kamu? Ayo masuk.”
Laki-laki itu masuk kedalam rumah dan duduk.
“Kau sudah menerima suratnya?” tanya pria tersebut.
“Surat? Oh, iya. Aku sudah menerimanya beberapa hari yang lalu.”
“Maaf aku baru bisa mengirimnya beberapa waktu yang lalu.”
“Maksudmu?”
“Ya, surat itu sebenarnya surat yang cukup lama. Sudah setahun yang lalu.”
“Maksudmu? Lalu kenapa surat itu baru sampai kemarin?”
“Aku menyembunyikannya.”
“Kenapa? Aku tidak mengerti ada apa ini. Sebenarnya ada apa?”
“Kau harus bersabar mendengar ini, sebenarnya... Apple telah wafat setahun yang lalu, surat itu dia tuliskan untukmu saat dia berada dirumah sakit. Walau kondisinya saat itu sedang sekarat, dia masih memaksakan diri untuk menulis surat itu sendiri.”
“Apa yang kau katakan Lin? Jangan bercanda, Apple tidak mungkin! Dia tidak pernah terlihat sakit, biasanya dia hanya sakit demam. Jangan buat aku semakin khawatir Lin.”
“Maafkan aku kak, inilah kenyataannya. Apple menyembunyikan semuanya darimu agar kau tak perlu mengkhawatirkannya. Penyakitnya itu telah menjangkitinya saat dia masih remaja, lebih tepatnya saat kalian saling mengenal.”
Air mata mulai tumpah dari perempuan itu, dia dengan bibirnya yang bergetar terus berkata “All Iz Well, tidak mungkin, tidak mungkin..” dia menatap laki-laki itu dan  memegang tangannya.
“Berlin, kumohon jangan bohongi aku, jangan bercanda. Apple tidak mungkin mati. Apple tidak mungkin mati...” semakin lama suaranya semakin keras, “Apple tidak mungkin mati, dia tidak mungkin meninggalkanku, dia sudah berjanji padaku. Berlin... jawab aku, kau bercanda kan? Berlin jawab aku, Apple tidak mungkin mati, dia tidak mungkin meninggalkanku. Apple? Dimana kau? Jangan ingkari janjimu. Jangan tinggalkan aku, kumohon...”
Tangisan memenuhi wajah wanita itu, laki-laki itu hanya terlihat merunduk dan terdiam. Hanya tangisan wanita itu yang memenuhi suara ruangan. Dia mengingat dengan jelas bagaimana pria yang dicintainya itu memberikan sebuah buku biru saat kelulusan mereka dan berjanji akan mendatangi rumah wanita tersebut. Janji yang mereka buat untuk saling memiliki dan menjaga. Mungkin inilah maksud dari surat tersebut. Ini adalah surga dan ini adalah medan perang. Semua bisa terjadi.
\

The End

Unknown

Developer

Kami adalah sekumpulan manusia yang haus akan informasi, kami lebih berbahaya dari mesin pencari. Kami adalah Jurnalistik.